1. Dear Guest, Selamat datang ke forum Cycling-Id.com. Silahkan membaca artikel New Members Guide untuk kenyamanan bersama.

[Simple Review] Polygon Helios LT8 2017 Edition

Discussion in 'Road, Time Trial, dan Cyclocross' started by Danny64X2.ID, May 16, 2018.

  1. Danny64X2.ID

    Danny64X2.ID Member

    Dear Oom2 & Tante2 baik yang berbudi luhur maupun yang berbody luhur,

    Selamat malam, selamat berpuasa bagi yang menjalankan

    Setelah capek off road, akhirnya tergiur on road. Saya memutuskan membeli Polygon Helios LT8 2017 Edition size 56 warna charcoal dengan harga as published Rp. 30.200.00,- langsung dari Polygon Store.id. Adapun alasan saya membeli LT8 adalah
    1. Sejak 2009 mulai main off road, karena pergaulan di Dumai adalah off road. Sepeda pertama yang saya beli adalah Polygon Premier 3.0 size 26.5. Setelah jatuh untuk pertama kalinya, saya jual ke teman. Saya yang salah karena lepas stang dan ga tahu kalau jalan pulang ada polisi tidur. I am a bad example.
    2. Setelah kelahiran buah hati ke-3 di 29 Maret 2018, saya nego ke istri untuk membeli sepeda balap Thrill Ardent 1.0 size 51 seharga Rp. 8.400.000,- (entah diskon entah ngosongin stock entah turun harga memang di Rukun Makmur, Solo - domisili keluarga). Tahu enaknya roadbike, saya pengin "naik kelas".
    3. Lokasi kerja saya di Dumai, Riau. Mumpung istri dan anak2 ga saya bawa ke Dumai, saya beranikan beli Helios LT8 size 56. 56? Padahal tinggi badan saya 172 cm dan inseam 81 cm. Mepet banget, tapi akan saya biasakan. Terus terang dari Premier 3.0, ke Heist 2.0, trus ke Thrill Ardent 1.0 terasa bedanya. Waktu itu sempat menimbang antara Strattos S7 Rp. 16.500.000,- atau Helios LT8 Rp. 30.200.000,- ...setelah tanya ke adik kelas yang sudah duluan main roadbike, disarankan beli Helios LT8 sekalian. Simpelnya sih...butuh naik kelas. (Hal serupa saya alami di hobi fotografi, dari body Nikon D3000, ke D7000, balik ke D5100, naik lagi ke D7100, dan sekarang nyaman di D750).

    Langsung saja, setelah 2 hari rakit saya test, dengan sebelumnya sudah merencanakan rute dalam kota yang banyak segmentnya di Strava. Not bad, dapat 11 achievement dengan 2 KOM. (Terlampir). (Pedal biasa belum cleat).

    Dengan berat full bike di 7.8 kg, memang benar review yang lain tentang Helios LT series ini "race-tuned". Tgl 6 Mei 2018 kemarin saya pakai untuk ngawal Fun Bike acara kantor dan memang "sangat nyaman untuk dipake sprint".

    Look and feel cukup berkelas lah...langsung jadi pusat perhatian. Perkabelan rapi. Groupset Ultegra memang sangat smooth (Thrill Ardent 1.0 masih pake Tiagra 4700). Wheelset pake Mavic Ksyrium.

    Kalau ada review lain yang mengatakan roadbike carbon Polygon cukup berlebihan getarannya, ada benarnya...dan memang saya temui, apalagi jalanan aspal di Dumai ga begitu mulus...bahkan selisih permukaan 3 mm di jalan beton di Dumai terbaca oleh struktur sepeda ini. Hal ini saya siasati dengan tidak duduk di sadle dengan beban, tetapi seperti hanya menempel di sadle saat sprint. (Logikanya seperti pelajaran fisika mekanika kelas 1 atau 2 SMA, gaya Normal di sadle dipindahkan ke kedua kaki tegang/nekan di pedal. Ada gambar skematik ntar.)

    Kalau di Thrill Ardent 1.0 pernah saya test sprint dan respon fork dan stang mulai liar di speed 45+ km/jam, hal tersebut tidak saya jumpai di Helios LT8 ini (mungkin karena beda kelas, I don't know.) Di kesempatan lain, Helios LT8 pernah saya geber dapet 65 km/jam dan masih stabil.

    Oh, ya...saya pake Padrone Smart+ yang ada HRM dan Cadence sensor. Berdasarkan review, cadence nya jarang terbaca, akhirnya saya coba balik wadahnya (permukaan magnet yang mengkilap menghadap sensor) dan taraaa... cadence terbaca (baru maghrib tadi saya kerjain).

    Akhir kata, saya cukup puas dengan Helios LT8 ini, simple saja review saya karena memang saya bukan atlit, I just love bycycling since my childhood.

    Terima kasih dan salam,

    Danny64X2.ID[​IMG][​IMG][​IMG][​IMG][​IMG][​IMG][​IMG][​IMG][​IMG][​IMG][​IMG][​IMG][​IMG][​IMG][​IMG][​IMG][​IMG][​IMG][​IMG]

    Sent from my SM-N935F using Tapatalk
     
    pumashoes, andytio and kw2 like this.
  2. Danny64X2.ID

    Danny64X2.ID Member

    As promised.

    W = gaya berat. Adalah besarnya tarikan gravitasi bumi terhadap suatu benda/materi.
    Di as roda depan dan belakang merupakan titik tumpu distribusi berat dari tubuh pesepeda dan keseluruhan struktur sepeda.
    Di sadle, pada saat duduk sempurna, berat badan dibebankan seluruhnya ke sadle (kaki nggantung pas di pedal).
    Di pedal, pada saat duduk sempurna di sadle hanya bekerja power push dari telapak kaki/sepatu untuk narik gear via rantai sepeda.

    N = gaya Normal. Sesuai hukum Newton III dalam mekanika klasik, setiap gaya aksi yang bekerja pada suatu benda atau permukaan, terdapat gaya reaksi yang sama besarnya dengan arah yang berlawanan.
    Di permukaan ban yang menyentuh aspal bekerja gaya normal dari permukaan aspal ke sepeda dan pesepeda, gaya inilah yang memberikan getaran ke struktur sepeda ketika melewati batas toleransi struktur sepeda. Jika berlebih, maka pesepeda akan merasakan getarannya, namun karena struktur tulang kita ada sendinya di kaki, tangan, paha dan lengan, maka getaran ini akan teredam. Ingat, setiap struktur memiliki frekuensi alami yang dapat beresonansi jika ada frekuensi yang mendekati atau sama.

    Bedanya gambar atas dan gambar bawah adalah gambar atas posisinya duduk sempurna di sadle, power ke pedal mengandalkan push (and pull bagi yang pake cleat system) kekuatan kedua paha bergantian. Gambar bawah tidak duduk sempurna, melainkan ada distribusi berat badan ke kedua kaki yang membantu power push ke pedal. Posisi ini mampu meredam (memberikan respon lebih kecil) getaran dari jalan aspal yang tidak mulus ke badan karena gaya Normal di sadle berkurang signifikan. Di gambar atas N_sadle = w_pesepeda, di gambar bawah N_sadle = w_pesepeda - 2x w_kakipesepeda. Respon getaran di struktur sepeda tetap sama dari aksinya permukaan jalan aspal yang tidak mulus. Namun, karena beban interface sepeda ke pesepeda yang dikurangi, maka getaran yang dirasakan oleh pesepeda lebih sedikit.

    Efek negatifnya adalah engkel kaki bekerja lebih berat daripada posisi yang di gambar atas pada kondisi duduk sempurna, karena juga menopang berat badan yang disalurkan lewat paha dan betis (kaki yang tegang). Tapi jika sudah bisa menemukan keseimbangan antara power push pedal (kayuhan) dan tahanan (restriksi) permukaan jalan (meliputi gaya gesek ke belakang roda ke aspal, tanjakan dengan gigi ringan (depan gear kecil, belakang gear besar), dan turunan dengan gigi berat (50/11)), maka beban berat badan yang terdistribusi ke engkel akan berkurang dan pas seimbang resultannya akan 0 (nol), inilah kondisi paling lambat/lama menuju capek (kondisi otot lokal jenuh dengan asam laktat).

    Manusia dengan laju pembentukan asam laktat terendah pada ototnya adalah Michael Phelps, perenang dari Amrik yang tersohor itu, rate nya hanya setengah dari manusia normal...mungkin dia mutant, I don't know.

    Well, it's all about balance. Like in kungfu, if balance is good, everything is good. If not, we better go home.

    Keep pedaling and find our own rythm and balance. Get farther faster.

    CMIIW,

    Danny64X2.ID[​IMG]

    Sent from my SM-N935F using Tapatalk
     
    pumashoes and andytio like this.
  3. niclo32

    niclo32 Member

    penjelasan yang sangat panjang om, jadi pusing,, :confused::confused:
     
  4. Danny64X2.ID

    Danny64X2.ID Member

    Memang...haha...
    Fisika memang bikin pusing.

    Tapi, teknik itu bisa diterapkan koq...
    Walaupun tidak sepanjang trip.

    Dari sekitar 1 menit gowes paling bisa terasa steady/seimbangnya cuman 10-20 detik...setelah itu pasti kacau...
    Wong sepedaannya di jalan raya...not traffic free.

    Tambahan,
    Helios LT8 ini sangat stabil, tadi malem cukup panjang saya pake lepas stang...lubang di jalan kedalaman 5 cm cuman goyah sebentar...pas lurus dan rata, langsung stabil lagi...

    Kalau soal dancing, tidak senyaman Thrill Ardent 1.0 saya yang di Solo...tapi tetap bisa diajak dancing.

    Sent from my SM-N935F using Tapatalk
     
  5. kw2

    kw2 Active Member

    Pantes stabil om, size 56, yg biasa dipake orang tinggi 180+, stemnya juga panjang
     
    Danny64X2.ID likes this.
  6. Danny64X2.ID

    Danny64X2.ID Member

    Oh...pengaruh dari situ ya...
    Ahahaha...saya ga tahu kalau size makin besar, kestabilan meningkat...

    Sent from my SM-N935F using Tapatalk
     
  7. andytio

    andytio Fat Cyclist

    56 ?? mmmmmmm mmmm
     
    reza105 likes this.
  8. lawyerone

    lawyerone Active Member

    Selalu pengen punya sepeda size gede. Tapi....
    Apadaya. Inseam saya pendek :')


    7,8kg ya. Berat juga yah....

    Jadi kepengen ambil BMC aja, berat mirip. Naksir berat sama framenya...

    TAPI HARGANYA. UGHHHHH....


    Back to topic. Saya kemaren juga sempet pengen LT8 tapi yang 2018 edition. Yah ga beli sih. Berasa lebih worth beli frameset soalnya :') (secara komponen dah punya lengkap).

    Memang kalo dilihat Polygon LT ini sangat cakep yah. Saya juga naksir berat. Apalagi kalo ditanya kenapa ga merek yang lebih established bisa punya alesan "saya cinta produk dalam negeri".

    Anw top om!!! Mantap!!! Keep sharing ya om :D


    Soal getaran, menurut saya sih roadbike rata-rata pasti lebih berasa getarnya ketimbang MTB. Saya juga berasa banget soalnya. Meski memang katanya merek-merek lain memang terkadang lebih smooth. Tapi saya rasa ga semuanya. Saya pribadi belum pernah cobain Polygon carbon. Mungkin suatu saat nanti harus coba, dimulai dari frameset LT9X :D

    Dan harus diinget lagi om, ngacirnya itu loh, feeling ngacir setelah terbiasa pake MTB terus coba roadbike itu bener-bener priceless. Ga ada yang bisa gantiin :D. Atau hanya saya yang merasa begitu?
     
  9. piak

    piak Active Member

    65km/h wow..
    Kelas kelas sprinter top ini
    Anyway review mantep lengkap detail
     
  10. Danny64X2.ID

    Danny64X2.ID Member

    Oom @lawyerone :
    saya berani ngambil size 56 karena saya masih tumbuh tinggi, saat ini usia 36 tahun (secara ilmu biologi harusnya sudah tidak tumbuh tinggi lagi)
    saat masuk kerja pertama awal 2007 tinggi saya 170 cm saja,
    pas medical check up rutin kemarin (awal 2018) saya kaget, ternyata tinggi saya 172 cm, sudah dengan 2 (dua) meteran (alat ukur) yang berbeda,
    dan ternyata setelah saya ukur inseam saya 81 cm (sayangnya 2007 dulu saya ga ukur inseam saya)

    setelah melihat geometri di webnya polygon, ternyata size 56 stand over heaight nya masih 78.67 cm
    akhirnya saya ambil size 56.

    7.8kg jadi ga terasa berat karena saya mengalami penurunan berat sepeda
    Polygon Premier 3.0 size 26 = 15.5 kg (punya sendiri, jatuh karena lepas stang, jual ke teman)
    Polygon Premier 5.0 size 27.5 = 15.4 kg (punya sendiri, ditaksir teman, jual)
    Polygon Heist 2.0 size 27.5 = 13.4 kg (punya adik ipar di Solo, sering saya pakai)
    Thrill Ardent 1.0 size 51 = 9.8 kg (punya sendiri, buat main road bike di Solo)

    jadi kerasa bange 7.8 kg itu ringan.

    sebenarnya sama adik kelas SAYA juga disuruh ngeliat Trek, BMC, dan Look (bahkan Cannondale, CAAD12) pada range harga 30jt-an rupiah,
    milih polygon bukan karena cinta produk dalam negeri sih, tapi daripada mbayar bea import ke negara...
    ya sudahlah, ambil yang tanpa bea import saja...
    lagian saya belum bisa merakit sepeda sendiri, hal berbeda pada ayah saya, dia bisa merakit sepeda sendiri dari 0 (nol)
    saya belum lulus nyetel jari2 (ruji) roda sampai saat ini, vonis ayah saya itu.

    Getaran sih saya akali dengan sedikit mengangkat pantat dari sadle.
    Dari perhitungan (basis saya dan Helios LT8 dengan 2x bidon isi air @750 ml), diperoleh batas toleransi getaran pada 2 milimeter pada kecepatan 20-25 km/jam (kecepatan average saya)
    memang simpel aja sih perhitungan, tapi secara teoritis sudah minim kesalahan logika.
    Diatas 2 mm, akan terasa getarannya sampai ke badan pesepeda.
    Seperti dalam fotografi, lensa prime bisa nge-zoom...zoom nya turun ke dengkul. Demikian juga road bike, suspensi fork naik dari fork ke kedua tangan.

    priceless nya roadbike sih emang ngacirnya...low cadence, higher speed...ngacir sambil senyum kayak lady clip nya Skutermatik-nya SKJ.

    Oom @piak
    65 km/jam kan top speed, sebentar doank...itu pun dibantu jalan turun dengan gear 50/11.

    Berikut perhitungan sederhana saya.

    Basis Kalkulasi.jpg
    Hasil Kalkulasi.jpg
     
  11. reza105

    reza105 Active Member

    Om @Danny64X2.ID , udah pernah bawa sepeda ini jalan jarak agak jauh di atas 60km kah?

    dengan tinggi badan 172cm dan frame size 56 apakah pegal-pegal atau ngga..?
     
  12. Danny64X2.ID

    Danny64X2.ID Member

    Will do tomorrow...
    About 100km lebih dikit...berangcut abis sahur...

    Sent from my SM-N935F using Tapatalk
     
  13. Danny64X2.ID

    Danny64X2.ID Member

    As promised.

    About the pain at the back, 100+ km = No.
    Sakitnya malah di bahu kiri, dan engkel kaki kanan.
    Kalau engkel kaki kanan memang pernah cedera dan membuat saya gantung sepatu dari futsal. Solusinya pas jalan turun, saya ga ngayuh, kaki kanan senam engkel, 4 putaran searah jarum jam dan 4 putaran berlawanan arah jarum jam. Setelah terasa nyaman (sakitnya mereda), diamkan 20 meteran dan lanjut gowes.

    Sakit yang di bahu kiri...ini saya yang kaget...
    Karena saya belum pernah cedera di tangan kiri. Mungkin panjang tangan kiri dan kanan saya tidak sama...karena posisi stang dan head set sudah saya yakinkan siku (perpendicular).

    Di 90 km akhirnya saya menemukan batas atas dari performa normal tubuh saya...

    Cuaca lebih panas daripada pas tgl 1 Mei 2018 dengan Premier 5.0 pada jarak tempuh yang sama, namun saya balik arah.

    Berikut rekam medis dari Cycling dan Setrapah.

    Sent from my SM-N935F using Tapatalk

    Upload failed by Telkompret.
    Akhirnya bisa...one by one...

    [​IMG][​IMG][​IMG][​IMG][​IMG][​IMG][​IMG]
     
    Last edited: May 19, 2018
  14. Pradimtyo_mh

    Pradimtyo_mh Active Member

    Waduh sayang bgt gak ambil sz 52 / 54 saja. Karena kalo matok dari stand over height menurut sy kurang tepat. Karena yg penting kalo menurut saya itu: reach, toptube effective, headtube leght. Tapi kalo memang frame sudah fit dan tanpa ada keluhan ya mungkin memang geometry tubuh anda panjang di upper part seperti torso / arms


    Sent from my iPhone using Tapatalk
     
  15. Danny64X2.ID

    Danny64X2.ID Member

    Oom Pram,

    52 atau 54 ga ada stocknya, Oom...
    Kemarin beli juga karena dah gatel mau main road
    Kalau Polygon Helios size nya 53, 56, 58
    Yang ready cuman 56

    Dulu kurus kerempeng, Oom...saya 170 cm 51 kg di 2007 awal...sekarang udah 172 cm 80 kg di 2018

    Memang berasa kaki dan tangan lebih panjang secara proporsi dari badan.

    Kalau dari gowes tadi sih cuman sakit di engkel kaki kanan dan bahu kiri...udah ketemu solusinya sih, kalau udah terasa sakit, istirahat dan relaksasi...

    Sent from my SM-N935F using Tapatalk
     
    alhafidzraisa likes this.
  16. alhafidzraisa

    alhafidzraisa New Member

    Halo om salam kenal, senang baca thread yg bahas helios LT, jadi banyak dpt masukan dr sharing2 ANDA. Kbtulan sy jg baru aja bljar roadbike 3 bulanan pindah dr mtb dgn tujuan turunin BB saya yang 140 kg lebih.

    Akhirnya pilihan juga jatuh ke helios LT tapi yg seri LT9X ANDA, setuju dgn sharing ANDA speda ini benar2 enak banget buat santai atau mau diajak kenceng,
    Berkat speda ini jg sy sdh turun 30kg lebih, dgn rutin spedaan tiap hari.

    Yg mau sy tanyakan ANDA dengan size 56 cm apa nyaman buat posisi hood atau dropbar? Sy kbtulan pake size 53, tinggi 177 cm, BB 100kg.

    Ada tips2 tertentu g ANDA biar kuat gowes 100km lebih pakai speda ini.

    Sy maksimal msh 60km pakenya utk bike2work aja.

    Mksh ANDA, slamat puasa dan gowes

    [​IMG]

    Sent from my ASUS_Z016D using Tapatalk
     
    Danny64X2.ID likes this.
  17. piak

    piak Active Member

    Dinikmati aja om gowesnya.. Sambil ditambah jam terbang.. Weekend bisa dibuat untk program latihan
     
    Danny64X2.ID and alhafidzraisa like this.
  18. Danny64X2.ID

    Danny64X2.ID Member

    Oom @alhafidzraisa :

    Yg mau sy tanyakan ANDA dengan size 56 cm apa nyaman buat posisi hood atau dropbar? Sy kbtulan pake size 53, tinggi 177 cm, BB 100kg.

    Ada tips2 tertentu g ANDA biar kuat gowes 100km lebih pakai speda ini.

    me :

    Saya long runner, Oom... biasa posisi top dan hood, untuk drops saya hanya pakai pas sprint
    sprint paling saya cuman kuat 1-2 menit, setelah itu megap megap dan balik ke top...untuk recovery

    tips2 tertentu...ga ada sih... saya lagi maintain main cadence yang stabil
    jadi saya membaca jalan, kalau keringanan, kecilin gir belakang...kalau keberatan, gedhein gir belakang
    sangat jarang sampai ngubah gir depan

    semula saya juga sudah mengira kalau punggung dan pinggang akan cekot cekot...
    ternyata tidak...hanya bahu kiri dan engkel kaki kanan yang capek
    tapi sambil sepedaan bisa recovery koq...tinggal ngurangi kayuhan, terutama pas turun

    pas 100 km yang kedua, saya ga ngayuh sama sekali di turun...modal ngglondor doank...
    itu saya pake kesempatan untuk relaksasi engkel kaki kanan

    Setuju sama Oom @piak : just gowes and enjoy...
     
  19. piak

    piak Active Member

    Sama sama org gemuk soalnya hahaha.. Gw 93kg tinggi 174cm.. Paling bagus ya emang pake indoor trainer trus ikutin video video latihan di youtube ataupun subscribe sufferfest.. Gw blm siap mental ikutin sufferfest hahaha
     
    alhafidzraisa likes this.
  20. alhafidzraisa

    alhafidzraisa New Member

    Sip2, biasa pakai gigi depan besar apa kecil om? Yg lt8 depannya 52 apa 50 om? Nanti sy coba tipsnya

    Sent from my ASUS_Z016D using Tapatalk
     

Share This Page