1. Dear Guest, Selamat datang ke forum Cycling-Id.com. Silahkan membaca artikel New Members Guide untuk kenyamanan bersama.

Perjalanan Shannon Malseed Temukan Jati Diri

Discussion in 'Road, Time Trial, dan Cyclocross' started by bagusgowes, Jan 31, 2017.

  1. bagusgowes

    bagusgowes Well-Known Member

    malseed_full_chronis.jpg

    Kita semua pasti memiliki tujuan saat melakukan kegiatan favorit kita, bersepeda; entah hanya ingin bersenang-senang, menjaga kebugaran dan kesehatan, bergabung dengan komunitas lokal, atau mencapai tujuan yang tertinggi, yaitu memenangi sebuah ajang balap. Setiap tujuan yang diinginkan memiliki dua kemungkinan, berhasil atau gagal. Dan untuk itu kita harus melakukan usaha yang keras, atau kemudian gagal.

    Tapi, apa yang terjadi jika kemudian setelah berhasil mencapai apa yang diinginkan, kita tak merasa mendapatkan kepuasan? Apakah itu tanda bahwa kita ingin mencapai tujuan yang lebih tinggi lagi? Atau apakah kita harus mengevaluasi lagi dan merevisi makna kesuksesan?

    Juara Oseania dan dua kali juara road Australia, Shannon Malseed (Holden Women’s Cycling), menceritakan perjalanannya dalam mencari makna hidup dan arti kesuksesan.

    ----- ----- ----- ----- -----

    Sukses. Hal itulah yang selalu kita cari. Sejak lahir kita diajarkan bahwa kita harus bekerja keras agar bisa sukses, dan jika sudah sukses, maka kita akan bahagia. Sederhana. Tetapkan tujuan, bekerja keras untuk meraih tujuan itu, berhasil, dan bahagia.

    Namun selama berproses, kita akan belajar bahwa kadang kita tak selalu bisa berhasil. Gagal, kecewa, sia-sia; adalah beragam perasaan yang didapat saat gagal.

    Bagi Shannon, kesuksesan diukur oleh hasil, dan juga ditunjukkan oleh reaksi orang lain di sekitar kita. Saat Shannon memenangkan sebuah balapan, maka ayah, pelatih, teman-teman dan pacarnya, akan memuji dan memberi selamat atas kemenangannya. Saat gagal, semuanya juga akan menunjukkan simpatinya.

    Tahun 2016 adalah tahun yang aneh baginya. Dia berhasil mencapai banyak kesuksesan dengan menjadi juara di beberapa ajang balap sepeda. Namun dia merasa biasa saja, tak gembira. Pun apalagi saat gagal, pastinya juga tak gembira.

    Dia pun menyadari bahwa keluarga dan teman-temannya mendukungnya 100 persen, tak peduli apa hasil dari ajang yang diikutinya. Bahkan saat dia merasa ingin sejenak berhenti dari bersepeda, mereka pun tetap ada di sekitarnya dan menenangkan hatinya.

    Tahun 2016, Shannon menghabiskan waktu empat setengah bulan di luar Australia dengan berlomba di Eropa dan Amerika Utara. Pada saat itu, dia memang punya waktu bagi dirinya sendiri, namun di saat yang bersamaan, dia juga kehilangan motivasi. Saat kembali pulang ke Australia, dia bahkan seperti mengevaluasi dirinya sendiri, bahkan berpikir “kenapa aku melakukan semua ini (bersepeda – red.)”. Dia juga mempertanyakan apa yang telah dilakukannya selama ini, dan apa gunanya dia hidup.....

    Seiring berlalunya waktu, dia pun belajar bahwa kesuksesan bukanlah sesuatu yang bisa diukur dan tak selalu bisa membawa kebahagiaan. Kita semua mungkin pernah mengalaminya : berhasil melakukan sesuatu yang kita inginkan, sesuatu hal yang besar, lalu di keesokan harinya atau di beberapa minggu kemudian, saat bangun di pagi hari, kita merasa bahwa kita masih orang yang sama, tak ada perubahan atau kemajuan apapun.

    Poinnya adalah bahwa kesuksesan yang kita capai tak mencerminkan siapa diri kita. Kita menginginkan tujuan dan berusaha mencapainya – sebuah proses pembelajaran yang berharga – dan apakah kemudian gagal, atau hampir berhasil, atau bisa berhasil, kita masihlah tetap diri kita yang sama, tak berubah.Apa yang dirasa oleh Shannon : hidup adalah sebuah proses menuju dan meraih keberhasilan itu, bukan keberhasilannya yang menjadi tujuan akhir.

    Sebelumnya dia menemukan motivasi, dedikasi dan kebahagiaan dari sumber yang berasal dari luar diri : keluarga, teman dan media sosial, namun tak bisa memahami kenapa dia masih merasa tidak bahagia.

    Satu hal terbesar yang dilakukannya adalah pindah dari rumahnya dan tinggal di Ballarat, jauh dari keluarga dan orang-orang yang selalu memberi dukungan dan motivasi. Awalnya dia merasa seperti ikan kecil di sebuah kolam yang luas, namun dua tahun kemudian dia bisa menganggap bahwa Ballarat adalah rumahnya.

    Saat ini, dia sedang berlatih keras untuk menghadapi ajang Australian Road Nationals. Tinggal di Ballarat yang jauh dari keluarga dan teman, namun sudah dianggapnya rumah sendiri telah membangkitkan semangat dan motivasinya, secara mental maupun fisik.

    Bersepeda adalah olahraga yang tak bisa selalu diprediksi. Tak hanya membutuhkan kemampuan fisik dan taktik tim untuk memenangkan balapan, namun juga butuh keberuntungan. Setiap langkah kecil yang dilakukan setiap hari pastilah akan memberikan hasil di tujuan akhirnya nanti, dalam hal ini, tujuan yang ingin dicapai Shannon saat ini adalah ajang Australian Road Nationals itu.

    Kalaupun kemudian tidak jadi juara, pastilah ada pembalap yang lebih baik lagi, yang akhirnya bisa meraih gelar juara tersebut.

    Kesuksesan tidaklah diukur dengan jadi juara atau gagal.

    Sumber: http://goowes.co/2017/01/12/perjalanan-shannon-malseed-temukan-jati-diri/
     

Share This Page